Posts

Showing posts from January, 2015

Memimpin Diri Sendiri

Salah satu kekuatan kepemimpinan adalah kemampuan untuk memimpin diri sendiri, sebelum memimpin orang lain. Bila kita gagal memimpin diri sendiri untuk menjaga sikap dengan itegritas tinggi, maka kita tidak akan pernah menjadi pemimpin, tapi mungkin hanya menjadi pejabat dengan kekuasaan dan kekuatan yang tidak akan dicintai pengikut kita. Memimpin berarti kita wajib memiliki integritas untuk memberikan contoh dan perbuatan terbaik. Integritas dalam hal apa? Memperkuat kompetensi dan kualitas kepemimpinan kita untuk meraih sukses, serta memiliki keyakinan bahwa kita mampu menciptakan sukses bagi kita dan hubungan dengan sesama. Sudahkah kita menjadi pemimpin yang layak diteladani? Kita mungkin selalu berharap agar orang-orang yang kita pimpin memiliki disiplin yang tinggi dalam bekerja, tepat waktu, kreatif, produktif, dsb. Namun pertanyaannya adalah apakah kita juga adalah seorang pemimpin yang demikian? Artinya seorang pemimpin sejati bukanlah seorang yang hanya memiliki harapan-h...

Keretakan

Kita tidak bisa berharap keretakan kecil akan menyambung dengan sendirinya. Demikian juga kita tidak bisa mendiamkan sebuah masalah kecil sambil berharap masalah itu selesai dengan sendirinya. Kita harus proaktif untuk menyelesaikan keretakan kecil itu. Semakin dini kita mengatasinya, semakin kecil harga bayar kita dalam penyelesaiannya. Sebaliknya, semakin lama kita menunda untuk menyelesaikannya, semakin banyak kerugian yang harus kita tanggung akibat pembiaran itu. Jangan biarkan keretakan kecil itu menjadi semakin membesar. Segeralah ambil tindakan. Selamat membereskan keretakan.

Potensi Yang Kita Miliki

Potensi yang kita miliki tidak akan pernah menjadi maksimal jika kita tidak pernah menggunakannya. Karena sewaktu Tuhan menciptakan adam, Tuhan tidak membiarkan manbusia diam begitu saja. Tuhan segera memberikan tugas Adam untuk bekerja, yaitu dengan mengusahakan dan memelihar taman Eden. Perhatikan, dari awal manusia diciptakan, manusia tidak diciptakan untuk dia, pasif, atau bersantai saja. Ketika manusia bekerja justru di situlah potensi yang dimilikinya menjadi berkembang secara luar biasa.

Iman dan Strategi

Iman atau strategi? Dari kedua hal ini, mana yang lebih kita utamakan saat kita hendak melakukan sebuah tugas pekerjaan? Iman maupun strategi, keduanya adalah hal yang tidak dapat dipisahkan. Ketika kita hidup berimana kepada Tuhan, artinya mempercayakan segala sesuatu yang hendak kita kerjakan pada Tuhan, maka Tuhan akan menunjukkan strategi-strategi yang tepat sehingga kita dapat menyelesaikan setiap pekerjaan itu dengan sempurna.

Kejujuran

Sesulit apapun bisnis kita, seketat apapun persaingan yang kita hadapi, dan seberat apapun hidup yang kita jalani, maka kejujuran tetap menjadi yang utama bagi kita. Jangan sampai kita mengorbankan kejujuran hanya demi mengeruk keuntungan lebih besar dan lebih banyak. Kejujuran itu sulit, tapi kejujuran akan menolong seseorang melewati masa-masa sulit. Ya, kejujuran pada akhirnya akan mendatangkan upah. Bukan upah biasa, tapi upah yang datangnya dari Tuhan sendiri. Beranikah kita hidup jujur di tengah jaman yang moralitasnya ancur seperti sekarang ini?

Cara Menikmati Kekayaan.

Bagaimana cara kita menikmati kekayaan? Apakah hanya dengan cara membeli semua keinginan dan kesenangan kita? Jika itu yang terjadi, tidak ada salahnya jika mencoba menikmati kekayaan dengan cara yang berbeda, yaitu dengan berbagi hidup dengan sesama. Jika kita beramal atau berbagi hidup, barangkali kita tidak menerima kesenangan apapun secara lahiriah. Namun, tak dapat dipungkiri, bahwa saat kita berbagi hidup dengan sesama, saat itulah kita merasakan kedamaian, kebahagiaan, dan makna hidup yang sebenarnya. Sukacita dan kebahagiaan yang kita dapatkan jauh lebih besar dari kegembiraan yang kita dapat karena kita menggunakan uang untuk kesenangan diri kita sendiri. Ketika kita berbagi hidup dengan sesama, sesungguhnya itu juga salah satu cara menikmati hidup.

Kekayaan Yang Sebenarnya

Kekayaan tidak diukur dari materi, tapi dari sikap hati yang merasa cukup. Bagaimana kita mengukus kondisi kaya atau miskin? Umumnya, orang menilainya dari harta dan materi yang dimilikinya. Dinilai dari seberapa mewah rumahnya, seberapa bagus mobilnya, seberapa bermerek barang-barangnya, dsb. Benarkah kaya atau miskin diukur dari hal-hal itu? Sejatinya kaya atau miskin justru diukur dari sikap hati. Mereka yang bisa berpadan dan mencukupkan diri dengan apa yang ada sesuangguhnya orang yang kaya. Sebaliknya, mereka yang tak pernah merasa puas dan menjadi serakah sesungguhnya adalah orang yang miskin.

Orang Hebat

Jadilah orang hebat, bukan sekadar pemimpi hebat. Ketika kita harus menjalani kehidupan yang super berat, jangan pernah hal itu membuat kita putus asa atau menyerah kalah. Justru itu menjadi sebuah ujian bagi kita untuk melihat seberapa kita memiliki "rasa lapar" dalam meraih keberhasilan hidup. Tuhan jelas menghargai orang-orang yang memiliki tekad kuat dan determinasi yang hebat. Sebagaimana Tuhan memberkati Daud dan menjadikannya berhasil, demikian juga Tuhan melakukannya bagi kita.

Tak Tergantikan

Jadilah sesuatu/seseorang yang tidak bisa tergatikan! Jadilah menonjol, jadilah berbeda, jadilah unik. Daniel adalah pejabat yang tidak tergantikan di tiga rezim berbeda. Selain karena Roh Tuhan menyertainya, ia juga terbuka memiliki kinerja tanpa cacat. Sikap ini sudah Daniel miliki sejak muda, masih ingat bagaimana ia berani tampil beda dan tegas menolak makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala? Daniel berani melawan arus, bukan sekedar untuk tampil berbeda, tapi karena ia punya prinsip yang benar. Inilah yang membuatnya tak tergantikan.

Promo Awal Tahun 2015

Promo awal tahun 2015 Dapatkan diskon 10% for paket album : Start from Rp. 3.8jt - prewedding - enggagment - family - birthday - baby - maternity For more information. Contact me WhatsApp/sms/telp : 0878-8114-7110 Line and Instagram : jorfijecki Pin BB : 73EDC7BE

Punya Nama

Salomo menceritakan tentang si miskin yang sangat berhikmat dan dengan hikmatnya itu ia bisa menyelamatkan kota dari serangan musuh. Sayangnya, hikmatnya dihina dan perkataannya tidak didengar orang. Dari sini kita bisa belajar bahwa kebanyakan orang hanya mau mendengarkan seseorang yang punya nama. Jika tidak terkenal, orang mengabaikannya begitu saja. Ironis memang, namun itulah fakta yang terjadi, Itulah salah satu alasan mengapa Tuhan ingin membawa kita naik dan bukan turun, menjadikan kita kepala dan bukan ekor, yaitu supaya kebenaran yang kita suarakan didengar orang. Kita tidak bisa mengabaikan kenyataan bawah orang hanya mau mendengar mereka yang punya nama.

Mental Rata Rata

Yang diingat bukanlah yang rata-rata, tapi yang istimewa. Sikap dan pemikiran.... bagaimana yang disebut dan pemikiran pasaran atau rata-rata itu? Ini adalah orang-orang yang dalam hidupnya punya prinsip pokoknya asal bisa seperti orang lain, itu sudah cukup. Standar mereka hanya standar orang lain. Performa mereka tak buruk, tapi juga tidak istimewa. Mereka tidak pernah gagal, tapi juga tidak pernah berprestasi, tak pernah jatuh, tapi juga tidak pernah melesat, tidak pernah melontarkan ide bodoh maupun ide bagus karena mereka memang tak pernah memberi usulan di rapat-rapat. Sesungguhnya, di sekitar kita ada banyak yang seperti ini. Jika Bill Gates dulu berprinsip rata-rata, mungkin ia hanya akan menjadi progammer saja. Jika para atlet legendaris berprinsip rata-rata, tak akan ada rekor dipecahkan. Tuhan tidak menghendaki kita hanya bekerja dan bersikap rata-rata. Bukankah Firman Tuhan berkata "Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenag...

Cukup di Dalam Tuhan

Kebahagiaan akan dialami mereka yang tahu arti kata "cukup".  Bahagia itu sederhana! Lalu, mengapa kita masih terpaku pada paradigma bahwa kebahagiaan itu berarti punya rumah dan mobil mewah, pendapatan sekian, dsb? Bukan berarti semua itu tak boleh kita capai. Tapi, jika kita lalu merasa gagal, stress, bahkan putus asa, hanya karena tak bisa mendapat semua hal itu, belajarlah dari Salomo, penulis kita Pengkotbah. Di masa tuanya, Salomo sadar jika kebahagiaan bukan terletak pada harta dan kekuasaan yang ia miliki. Kebahagiaan bahkan bukan terletak pada hikmat yang Salomo pernah minta pada Tuhan. Juga bukan terletak pada istri-istrina yang banyak itu. Di tengah berbagai hal yang diidamkan orang itu, Salomo merasa hampa. Padahal berkat Tuhan atas Salomo amat luar biasa. Namun, semua itu tetap membuat Salomo tidak puas dan merasa hidupnya sia-sia. Untung, Salomo akhirnya tahu kunci kebahagiaan sejati itu. Kuncinya adalah hidup dalam Tuhan!